Diet Sebagai Gaya Hidup. Bagaimana Supaya Tidak Sekadar Ikut-ikutan?

Dari diet mayo hingga diet keto. Kian beragamnya jenis diet tak pelak menjadikannya semacam tren baru bagi gaya hidup kita. Sah-sah saja jika pada mulanya kita menjalani diet karena ikut-ikutan tren. Toh itu sesuatu yang positif karena sebenarnya diet merupakan kebutuhan dasar bagi tubuh kita, seperti dikatakan Professional Nutritionist Emilia Achmadi dari Mesa Academy pada hari kedua penyelenggaraan JEF. Tapi, kita mesti memilih tipe diet sesuai kebutuhan dan gaya hidup diri kita.

Sebelumnya Emilia mengingatkan kembali mengenai arti diet yang kerap disalahpersepsikan di tengah masyarakat. “Diet sering kali disalahartikan sebagai program penurunan berat badan,” tuturnya di talk show Special Diet to Lifestyle, Jumat (30/08). “Padahal diet adalah pola makan. Kalau kemudian disusun diet, pola makan, untuk menurunkan berat badan bisa juga.” Nah, karena merupakan pola makan, dirinya menyebut diet adalah, “basic need.”

Sayangnya, kian mudahnya informasi untuk diakses sekarang ini, sering kali kita terekspos oleh terlalu banyak informasi. Akibatnya, untuk mulai memiliki pola makan (diet) yang lebih sehat saja, kita sudah dibuat bingung akan diet apa yang mesti dijalani. 

Seperti ditekankan olehnya, tidak ada satu diet yang cocok untuk semua orang. Karena itu, kita harus mengenali diri kita, kondisinya seperti apa hingga tujuan dari diet yang akan dijalani.

Gwen Winarno, seorang Holistic Health Coach dan co-founder Pure Foods Company sependapat dengan hal tersebut. Selama belasan tahun menderita penyakit pencernaan Irritable Bowel Syndrome, ia menjalani diet sesuai kondisi tubuh berikut problem kesehatan yang dialaminya. Namun dengan senang hati ia berbagi dasar diet yang diterapkannya sebagai bagian dari gaya hidupnya kini. Hal-hal mendasar ini dapat diterapkan oleh masyarakat secara umum.

“Dari yang basic, perbanyak masak di rumah,” tutur Gwen, “karena kita jadi punya kontrol akan apa yang masuk ke tubuh kita. Kemudian, kurangi processed food, karena yang fresh itu yang terbaik. Ia menambahkan, “Untuk mengenali tubuh kita, memiliki food diary menjadi cara yang sangat baik. Apa yang kita makan, berikut efeknya bagi tubuh kita, tercatat di situ, karena tubuh kita masing-masing berbeda.”

Karena kondisi tubuh masing-masing orang belum tentu sama, Emilia menyarankan agar kita berkonsultasi kepada ahlinya dulu sebelum menentukan diet apa yang akan dijalani, untuk meminimalkan kemungkinan yang tak diinginkan dan agar hasilnya lebih optimal. Hanya saja, ia memberi bocoran, “Kalau ada diet yang menyuruh tinggalkan karbo, gula, atau lemak, tinggalkan saja. Tubuh kita membutuhkan zat-zat tersebut, cuma kita perlu tahu seberapa banyak kebutuhan kita masing-masing.”

Yang perlu dihindari adalah, “Drinking your calories,” sambungnya, “seperti minum es teh manis, sementara di makanan kita, makanan Indonesia pada umumnya, sudah banyak mengandung gula.”

Selain itu ia mengatakan, “Tubuh kita berubah seiring usia, dan makanan kita mesti menyesuaikan.”